FOOD TERMINOLOGI
1. MIE ACEH
source : https://www.google.com/search?q=mie+aceh&safe=active&rlz=1C1GCEA_enID829ID829&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwig26vPk4ThAhVaf30KHb-OBp4Q_AUIDigB&biw=1228&bih=537&dpr=1.1
Mie Aceh merupakan masakan mie pedas khas dari
Aceh. Mie yang berwarna kuning dan tebal ditambah dengan irisan daging sapi,
daging kambing, maupun makanan laut (udang dan cumi) yang disajikan dengan sup
sejenis kari yang gurih dan pedas. Mie Aceh sendiri ada dua jenis, yaitu Mie
Aceh Goreng (bentuknya kering dan digoreng) serta Mie Aceh kuah (bentuknya
seperti sup). Mie aceh dilengkapi dengan irisan bawang goreng dan disajikan
bersama emping, potongan bawang merah, ketimun, dan jeruk nipis.
Jika dilihat dari sejarahnya, kuliner Aceh
tidak lepas dari pengaruh budaya lokal masyarakat Aceh sendiri yang digabungkan
dengan budaya asing yang akhirnya membentuk wilayah Aceh di masa lalu. Terlebih
lagi Aceh di zaman dahulu terkenal sebagai pintu atau pelabuhan utama di
wilayah Sumatera dan sekitarnya.
Jika diamati, sup mie aceh dengan kari kental
merupakan pengaruh dari masakan India, sementara mie sendiri berasal dari resep
masakan China atau Tiongkok. Penyajian dengan menggunakan daging kambing atau
sapi pasti tidak lepas dari pengaruh nilai-nilai Islam di Aceh yang sangat
kuat, sedangkan penambahan makanan laut seperti cumi dan udang karena Aceh
terletak di geografis yang dikelilingi oleh lautan seperti Selat Malaka, Laut
Andama, dan Samudera Hindia. Juga dari cara hidup masyarakat Aceh yang bermata
pencaharian sebagai petani, pedagang, dan nelayan. Saat ini, Anda bisa
menemukan salah satu kuliner khas Aceh ini diseluruh kota di Indonesia bahkan
mie yang terkenal lezatnya ini bisa Anda temukan di negara sekitar Indonesia
seperti Malaysia dan Australia.
Dalam satu porsi, mie aceh memiliki beragam rasa,
dari mulai manis, asam, dan asin. Bumbu-bumbunya yang diracik dengan bahan
cabai bermutu tinggi, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, jahe, dan
rempah-rempah lainnya kemudian digiling halus sehingga berwarna merah.
Mie aceh memang sangat terkenal. Namun, tidak ada
yang tahu persis darimana asal usul dari mie aceh itu sendiri. Dalam buku-buku
sejarah Aceh pun tidak ada yang menemukan ihwal mula dari mie aceh. Walaupun
begitu, ada yang bilang mie aceh merupakan kombinasi dari Aceh, India, dan
China dimana mie berasal dari China, India sebagai pencetus kari yang kental
dan Aceh dengan bahan-bahan yang kaya akan bumbu sehingga terciptalah mie
aceh.
2. SATE MATANG
Di acaeh ada satu sate yang bernama
sate Matang. Sate dari dahulu identik dengan pedagangnya yang menggunakan gerobak. Di
beberapa tempat, sate dijajakan dengan gerobak dengan berkeliling. Sate matang
pun demikian, di Aceh, sate ini telah melegenda berkat tradisi mempertahankan
resep daerah dari pedagang lokal, meski konon baru terkenal ke luar daerah pada
'90-an
Ciri khas sate matang yang memadukan tiga jenis olahan ini yang bikin
pecinta kulier nusantara patut memberi ruang di antara jenis sate dari daerah
lain. Satu lagi, sate matang selalu dipadukan dengan nasi putih.
Pengolahan sate matang cukup lama. Sate matang berbahan utama daging
sapi atau kambing. Daging sapi yang telah diiris ini tak langsung dibakar di
atas arang, tapi terlebih dahulu direndam dengan beberapa bumbu hingga meresap
dalam daging. Sate inilah yang punya rasa khas bahkan sebelum diguyur dengan
saus.
Sementara saus atau bumbu sate, hampir sama dengan jenis sate lain
dengan racikan kacang tumbuk. Namun, pengolah sate matang menambahkan
bumbu-bumbu lain menyesuaikan dengan citarasa daging dan kuah soto yang juga
campuran daging. Sotonya terbuat dari banyak rempah. Jadi, ada dua daging dalam
setiap sajian sate matang, daging sate dan daging soto. Kedua daging ini tentu
membuat perpaduan rasa yang sempurna bagi para pecinta kuliner nusantara.
Nama "sate matang" berasal dari nama sebuah daerah di Aceh.
Sebuah kota kecil di Kabupaten Bireuen bernama Kota Matang Geuleumpang Dua.
Bireuen terletak di pesisir utara Aceh, pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara.
Banyak daerah di Aceh terdapat sate matang, namun pemerintah daerah
selalu mempromosikan bahwa jika pecinta kuliner nusantara ingin menikmati sate
matang asli, mestilah datang ke Matang Geuleumpang Dua ini. Pemerintah setempat
menyebut kota kecil ini sebagai pusat sate matang.
3. KUAH PILEK U
Kuah Pliek U adalah
makanan tradisional sejenis masakan bersantan yang khas dari daerahAceh.
Makanan satu ini sekilas hampir mirip dengan Gulai hanya saja
isinya berupa sayuran dan kuahnya terbuat dari bahan khusus. Kuah Pliek U
merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di daerah Aceh,
khususnya di daerah pesisir timur Aceh. Selain dikonsumsi sehari-hari, Kuah
Pliek U juga sering disajikan pada acara-acara tertentu dan menjadi salah satu
menu special yang digemari oleh warga di sana.
Asal Usul Kuah
Pliek U
Konon Kuah
Pliek U sudah menjadi makanan favorit masyarakat Aceh sejak jaman dahulu. Nama
Kuah Pliek U diambil dari salah satu bumbu dasar dalam membuat makanan ini
yaitu “Pliek U” atau yang lebih dikenal dengan Patarana.
Pliek u sendiri merupakan sisa kelapa yang minyaknya sudah diperas. Di
masyarakat pedesaan Aceh, minyak kelapa ini biasanya dijadikan minyak goreng
yang disebut dengan “Minyeuk Reutik”. Sedangkan sisa atau ampasnya
dijemur dan dijadikan pliek u. Pliek u ini kemudian gunakan masyarakat sebagai
bumbu dasar dari Kuah Pliek U.
Keunikan Dan
Keistimewaan Kuah Pliek U
Salah satu
keunikan dari makanan ini adalah penggunaan pliek u pada bumbunya. Penggunaan
pliek u ini akan memberikan aroma yang sedap serta memberikan cita rasa yang
khas pada kuahnya. Selain itu bahan yang digunakan pada Kuah Pliek U ini juga
merupakan aneka sayuran sangat bervariasi. Kandungan vitamin dan gizi pada
bahan Kuah Pliek U ini dipercaya dapat meningkatkan gairah dan kekebalan tubuh,
sehingga baik untuk kesehatan.
Pengolahan Dan
Penyajian Kuah Pliek U
Kuah Pliek U
ini terbuat dari bahan utama seperti buah nangka muda, papaya muda,
daun melinjo, kacang panjang, kacang tanah, buah melinjo dan pliek
u. Selain itu ada juga yang menambahkan beberapa bahan seperti rebung,
daun papaya, daun singkong, udang kecildan lain-lain. Sedangkan untuk bumbu
yang digunakan biasanya terdiri dari ketumbar, cabe,bawang merah,
bawang putih, dan bumbu rempah lainnya.
Dalam proses
pengolahannya, bumbu tersebut dihaluskan terlebih dahulu. Sedangkan bahan yang
bertekstur keras seperti buah melinjo dan kacang tanah harus direbus terlebih
dahulu hingga empuk. Setelah semuanya siap, bumbu serta sayuran dicampur dan
diaduk-aduk hingga merata. Kemudian bahan yang sudah dicampur dengan bumbu tadi
dimasukan ke dalam belangga (wajan), lalu diberi air santan
dan direbus hingga matang.Kuah Pliek U ini biasanya disajikan bersama dengan
nasi hangat. Untuk menu tambahan biasanya juga disantap bersama dengan ikan
asin.
Cita Rasa Kuah
Pliek U
Kuah Pliek U
ini memiliki cita rasa yang khas. Kuahnya yang gurih dipadukan aneka sayuran
yang segar membuat makanan satu ini semakin terasa nikmat. Selain itu aromanya
yang sedap tentu sangat menggugah selera dan membuat kita ingin tambah.
Kuliner Kuah
Pliek U
Kuah Pliek U
merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di Aceh, terutama
di daerah pesisir timur Aceh. Makanan ini tidak hanya menjadi makanan
sehari-hari masyarakat di sana, namun juga sering disajikan pada acara-acara
tertentu. Selain itu banyak juga warung makan atau restoran yang menyediakan
menu Kuah Pliek U ini, sehingga bagi anda yang berkunjung atau berwisata ke
sana bisa dengan mudah menemukannya.
4. AYAM TANGKAP
Ayam Tangkap adalah
salah satu makanan tradisional yang berasal dari daerah Aceh.
Makanan satu ini terbuat dari bahan dasar daging ayam, yang dimasak serta
digoreng dengan bumbu khusus dan disajikan bersama dengan daun-daunan yang
renyah. Secara penampilan, Ayam Tangkap ini cukup unik dan berbeda dengan
sajian ayam goreng lainnya. Namun dalam segi rasa, Ayam Tangkap juga memiliki
cita rasa yang khas, sehingga menjadi salah satu makanan favorit bagi
masyarakat Aceh maupun para wisatawan yang berkunjung ke sana.
Asal Usul Ayam
Tangkap
Asal usul Ayam
Tangkap ini masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun menurut beberapa
sumber, Ayam Tangkap ini merupakan jenis makanan yang sudah ada sejak dahulu.
Konon nama Ayam Tangkap ini diambil dari kebiasaan masyarakat Aceh saat memasak
daging ayam. Sebelum memasaknya, mereka harus menangkap ayam tersebut terlebih
dahulu di pekarangan mereka. Sehingga banyak yang menyebutnya Ayam Tangkap.
Keunikan Dan
Keistimewaan Ayam Tangkap
Keunikan Ayam
Tangkap ini sangat terlihat dari segi penyajiannya. Dalam penyajiannya, ayam
goreng tersebut disajikan dengan daun-daunan seperti daun temurui dan
daun pandan yang dirajang kasar serta digoreng renyah. Apabila kita cicipi daun
renyah tersebut, pertama kali akan terasa aneh, namun apabila dipadukan dengan
ayam goreng, maka akan menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat. Rasanya
yang khas itulah yang menjadi salah satu keistimewaan dari Ayam Tangkap ini.
Pengolahan Dan
Penyajian Ayam Tangkap
Seperti yang
dijelaskan sebelumnya, Ayam Tangkap ini terbuat dari bahan dasar seperti,ayam
potong, daun temurui, daun pandan dan cabe hijau. Untuk
cabe hijau ini biasanya menggunakan cabe panjang yang nantinya akan disajikan
bersama dengan daun temurui dan daun pandan. Sedangkan untuk aneka bumbu yang
biasanya digunakan di antaranya seperti,bawang putih, bawang merah, cabe
rawit, kunyit, jahe, dan air asam jawa.
Dalam proses
pembuatan Ayam Tangkap ini, pertama daging ayam dipotong sesuai dengan
keinginan dan dibersihkan. Setelah bersih, daging kemudian direndam bersama
bumbu hingga meresap lalu daging ayam digoreng hingga matang. Setelah hampir
matang, kemudian daun temurui, cabe hijau dan daun pandan digoreng bersama
dengan daging ayam tadi. Setelah semuanya matang, lalu tiriskan. Ayam Tangkap
biasanya disajikan langsung bersama dengan daun-daunan yang sudah digoreng
tersebut. Untuk menambah aroma, biasanya cukup ditaburi dengan bawang
goreng.
Cita Rasa Ayam
Tangkap
Bagi anda yang
baru pertama kali menikmati masakan Ayam Tangkap ini, biasanya akan merasakan
sensasi rasa yang berbeda dengan masakan ayam lainnya. Rasa daging ayamnya yang
gurih dipadukan dengan daun temurui dan daun pandan yang renyah tentu
memberikan cita rasa yang khas pada makanan tradisional satu ini. Ayam Tangkap
sangat cocok disajikan selagi hangat bersama dengan nasi hangat juga.
5. UNGKOT KEMAMAH
Eungkot Keumamah ini adalah salah
satu dari sekian banyak masakan khas Aceh. Masakan ini sudah ada dari jaman
dulu. Bahkan makanan ini andalan para pahlawan Aceh pada saat perang melawan
kafir Belanda. Fungsi masakan ini sendiri hampir sama dengan rendang—makanan
yang awet dan tidak mudah basi. Semakin dipanaskan/dihangatkan semakin enak.
Disebut ikan kayu karena tekstur ikan ini keras akibat dari proses pengeringan
di terik matahari dan melalui pengasapan. Hal ini dimaksudkan agar ikan lebih
awet dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Setelah dijemur dan
dipotong sepanjang pergelangan tangan, lalu dilanjuti dengan proses pelumuran
tepung dan sekikit kapur.
Jenis ikan ini sendiri adalah ikan
tongkol yang sangat besar potensinya di Aceh karena lokasi geografis yang
dikelilingi oleh lautan. Sehingga potensi yang berlimpah ini dimanfaatkan oleh
masyarat pesisir Aceh untuk dijadikan oleh masakan yang nikmat.
Secara umum, sejarah masakan Aceh
berkembang pada saat zaman hindu yang dibawa oleh orang India yang secara
lokasi dekat dengan Aceh. Masakan Aceh sendiri pun sangat mirip dengan masakan
India. Hal ini didukung pula karena ketersediaan rempah-rempah di daerah
setempat yang mewarnai cita rasanya yang asam dan pedas serta gurih. Jenis
makanan di Aceh pun beragam. Ada yang berkari kental, berkuah, dan bertumis
seperti Eungkot Keumamah ini.
6. KUE TIMPHAN
Jika datang ke dataran Aceh, kita
akan menemukan masakan khas Aceh yang diberi nama Timphan. Setiap rumah
penduduk, baik yang di kota hingga desa, pasti menghidangkan kue yang satu ini
di hari-hari tertentu. Timphan adalah kue khas Aceh yang biasanya isinya kelapa
dan srikaya, asoe kaya, dan dibungkus oleh daun pisang.
Timphan merupakan satu jenis
masakan yang secara bentuk memiliki kemiripan dengan lontong yang sering kita
temukan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Isian dari Timphan berasal dari
jenis yang mudah ditemukan di Aceh. Masakan ini memanfaatkan apa yang bisa
diolah dari tanah mereka. Hal yang menarik dari Timphan adalah sebuah keterampilan
yang diwariskan turun-temurun pada garis darah perempuan Aceh.
Hampir seluruh keluarga yang
terutama memiliki garis keturunan perempuan dapat membuat masakan ini.
Pewarisan ini yang justru menjadi wadah dan jalan komunikasi antara perempuan
Aceh. Bukan hanya dalam keluarga mereka saja, tetapi dengan tetangga ataupun
sanak saudara yang lain pun hal ini selalu dilakukan. Sambil diajarkan cara
membuatnya, mereka akan saling bercakap dan saling men-transfer tentang hal
apapun sehingga tali silaturrahmi diantara mereka terikat erat.
Bahan baku Timphan terdiri atas
tepung ketan, pisang raja, gula, telur ayam kampung, kelapa, minyak goreng, dan
pucuk daun pisang sebagai pembungkus. Kendati harga telur ayam kampung lebih
mahal, para ibu di sana lebih memilih menggunakannya dibanding telur ayam
buras. Karena rasanya jauh lebih enak.
Cara membuatnya pun tidak rumit,
cuma butuh waktu cukup lama. Kalau membuatnya selepas shalat isya, maka Timphan
baru masak mendekati subuh. Ada dua jenis Timphan yakni Timphan isi telur dan
kelapa. Untuk membedakannya, daun pisang raja untuk membungkus Timphan telur
warnanya agak hijau muda keputihan. Sedangkan untuk Timphan kelapa, daunnya
lebih hijau atau kemerahan setelah kena uap.
Cara memasak Timphan secara
tradisional menggunakan periuk tanah liat yang bagian tengahnya diberi sekat
dengan lubang-lubang halus seperti saringan untuk menempatkan Timphan. Di
bagian bawah periuk diisi air. Jadi Timphan dikukus bukan direbus.
Ini biasanya dilakukan para ibu di
kampung-kampung. Sementara tukang masak di toko roti di kota menggunakan panci
aluminum atau stainless steel untuk mengukus Timphan hingga matang. Rasanya
jela beda. Lebih enak Timphan yang dikukus dalam periuk.
Timphan merupakan kue dan hidangan
khas Aceh pada acara-acara penting di dalam kebudayaan Aceh. Timphan sering
dibuat khusus untuk hari lebaran, pesta pernikahan yang merupakan hidangan
pembuka utama bagi tamu yang hadir pada Khenduri dalam kebudayaan Aceh.
Makanan ini sudah tersohor tidak
hanya di lingkungan Aceh, tetapi Aceh sendiri yang merupakan sebuah wilayah
yang kuat akan ajaran Islam membuat warga dari kebangsaan lain pun mengenal
bahkan membuatnya di tanah mereka masing-masing.
Timphan menjadi kue spesial
lebaran yang tetap dipertahankan meskipun bahan bakunya semakin mahal. Tanpa
Timphan srikaya ataupun kelapa pada hari raya, lebaran terasa kurang lengkap
meskipun sudah ada aneka penganan lain.
Timphan yang biasanya ditempatkan
di nampan lebar atau piring-piring ceper, menjadi kue utama untuk menjamu tamu
lebaran. Bagi menantu, Timphan seolah menjadi hantaran wajib ke rumah mertua
saat ber-lebaran. Bila sudah begini, rasanya tak berlebihan bila banyak orang
yang bilang Timphan itu kue Aceh paling istimewa untuk lebaran.
Begitulah masakan Aceh yang
sederhana namun kuat akan tradisi dan rasa kekeluargaan. Tidak hanya untuk
mengenyangkan perut yang memakannya, tetapi juga nilai budaya yang terus
mengalir ke anak-cucu.
Timphan menjadi simbol kepulangan
bagi siapapun warga Aceh yang jauh dari rumah mereka, seperti pada ungkapan
dalam pribahasa:
“Uroe goet buluen goet Timphan
ma peugoet beumeuteme rasa” (Hari baik bulan baik, Timphan ibu buat harus
dapat kurasakan).
Timphan adalah pengikat dan pengingat. Mereka yang sedang di rantau akan
segera pulang untuk dapat berkumpul di rumah lalu bersama-sama menyantap
Timphan yang dibuat oleh ibu tercinta
7. KUE BHOI
Bhoi adalah sejenis kue bolu,
berbahan tepung beras, telur bebek dan gula pasir. Seiring perkembangan zaman,
bahan pembuat bhoi kini mulai disesuaikan dengan kesukaan masyarakat, yakni
tepung beras digantikan dengan tepung terigu, dan telur bebek, digantikan
dengan telur ayam.
Pergantian bahan baku pembuat kue
bhoi, tidak lepas dari kemudahan mendapat beras karena sebahagian masyarakat
Aceh tempo dulu merupakan petani padi. Hal itu juga terjadi pada bahan baku
telur.
Tak ada yang bisa menjelaskan
muasal nama Bhoi. Namun kultur India dan China diakui turut mempengaruhi
masyarakat pada proses penggunaan cetakan dan pembuatan motif penganan yang
satu ini.
kue bhoi merupakan penganan
kalangan ningrat termasuk keluarga Sultan Iskandar Muda. Penganan ini disajikan
kepada tamu istimewa yang datang berkunjung, atau saat perhelatan adat besar
seperti pesta perkawinan
“Bahkan dalam hidangan khusus
untuk para keluarga besar disajikan sebuah bhoi bentuk ikan dengan ukuran besar
dalam sebuah piring. Ini untuk menunjukkan kelas dari keluarga si pegantin
perempuan dan uniknya kue besar ini tidak boleh dimakan, hanya untuk
menunjukkan bahwa ini adalah syarat adat yang harus dipenuhi keluarga pengantin
perempuan,” sebut Badruzzaman ujar profesor hukum adat.
8. KUE KEUKARAH
Keukarah,
atau Karah adalahkue tradisional Aceh yang
bertekstur garing dan renyah. Sepintas ia terlihat seperti jalinan mie hun.
Warnanya kuning keemasan, berasal dari warna alami adonan yang digoreng
menggunakan minyak
Bentuk kue pun ini beragam, di
wilayah pantai Timur Utara Aceh, umumnya kue ini berbentuk bulan sabit dengan
panjang sekitar 10 – 15 cm. Sedangkan di Aceh Barat umumnya berbentuk segitiga,
ukurannya pun beragam, ada yang sebesar cupee atau piring kecil, ada yang
sebesar piring, dan ada yang lebih besar lagi, tergantung keperluan dan selera.
Yang besar ini biasanya sudah tidak garing lagi, teksturnya pun menjadi liat,
untuk memudahkan cara memakannya biasanya diseduh dengan teh atau kopi panas.
Di Aceh kue ini sering menjadi
suguhan utama di Hari Raya, pada upacara perkawinan sering pula menjadi pengisi
talam sebagai hantaran, begitu juga pada upacara-upacara kematian sering
dijadikan sebagai buah tangan saat menjenguk keluarga duka. Terutama di wilayah
Aceh Barat dan sekitarnya.
9. BUBUR KANJI RUMBI
Konon kuliner ini berumur ratusan tahun. Warga
menjaganya sebagai tradisi dan mudah ditemui saban Ramadan di Aceh, pada
seluruh pelosok.
Bubur Kanji diyakini berasal dari Gujarat dan
Malabar, dua daerah distrik di India. Dibawa oleh para pedagang ke Aceh saat
menyebarkan Islam abad ke-12. Begitu penuturan Adli Abdullah, pemerhati sejarah
dan budaya Aceh.
Bubur Kanji yang mirip bubur ayam setelah
dikenalkan abad ke-12, semakin popular di Aceh pada abad ke-16. Saat itu, Aceh
dalam masa kejayaan dan berpengaruh di dunia, punya banyak sekutu dagang dan
sekutu perang dalam menjaga kedaulatan negeri.
Bubur Kanji yang mirip bubur ayam setelah dikenalkan
abad ke-12, semakin popular di Aceh pada abad ke-16. Saat itu, Aceh dalam masa
kejayaan dan berpengaruh di dunia, punya banyak sekutu dagang dan sekutu perang
dalam menjaga kedaulatan negeri.
salah satu wilayah sekutu adalah Malabar, yang
membantu Aceh mengusir Portugis dari Selat Malaka. Banyak pemuda negeri itu
yang merantau ke Aceh, bekerja sebagai tentara dan pembuat kapal-kapal perang,
juga pandai senjata. Mereka membawa budayanya ke Aceh, termasuk makanan
Kala Ramadan, para pemuda Malabar
selalu mengolah Kanji Rumbi sebagai makanannya. Mereka berbagi dengan warga
Aceh, bertukar dengan makanan di sini, seperti Kuah Belangong dan Sie Reboh.
Membangun kebersamaan dalam rasa sosial yang tinggi.
Enak di lidah dan perut, warga
Aceh meminta resep dan mulailah diracik Kanji Rumbi oleh pribumi. Terus menerus
sampai menjadi tradisi.
Kala Ramadan, para pemuda Malabar
selalu mengolah Kanji Rumbi sebagai makanannya. Mereka berbagi dengan warga
Aceh, bertukar dengan makanan di sini, seperti Kuah Belangong dan Sie Reboh.
Membangun kebersamaan dalam rasa sosial yang tinggi.
Enak di lidah dan perut, warga
Aceh meminta resep dan mulailah diracik Kanji Rumbi oleh pribumi. Terus menerus
sampai menjadi tradisi.
Setelah 800 tahun, Kanji Rumbi
menjadi kebiasaan saban Ramadan di masjid maupun meunasah, dibuat untuk menjadi
menu berbuka para warga gampong.
Di Masjid Al Furqan Beurawe, Banda
Aceh misalnya, Kanji Rumbi selalu tersedia. Selain dibagikan kepada warga, juga
menu untuk yang berbuka di masjid. Seluruh warga urunan dana untuk menyiapkan
masakan ini
10. MEUSEUKAT
Meuseukat
Meuseukat merupakan salah satu kue tradisional Aceh yang boleh dibilang memiliki "kasta" yang tinggi dalam dunia kuliner Aceh.
Meuseukat secara fisik mirip seperti dodol, teksturnya lunak dan rasanya manis. Kue ini berwarna putih, karena tidak menggunakan pewarna makanan. Bahan bakunya terbuat dari tepung terigu yang dicampur gula dan sari buah-buahan. Cita rasa yang khas serta rasanya yang lezat membuat penganan ini sangat digemari oleh masyarakat Aceh.
Meuseukat merupakan salah satu kue tradisional Aceh yang boleh dibilang memiliki "kasta" yang tinggi dalam dunia kuliner Aceh.
Meuseukat secara fisik mirip seperti dodol, teksturnya lunak dan rasanya manis. Kue ini berwarna putih, karena tidak menggunakan pewarna makanan. Bahan bakunya terbuat dari tepung terigu yang dicampur gula dan sari buah-buahan. Cita rasa yang khas serta rasanya yang lezat membuat penganan ini sangat digemari oleh masyarakat Aceh.
Sebelumnya, kue tradisional ini
hanya dapat ditemui pada saat acara-acara tertentu saja, seperti profesi
pernikahan dan hari lebaran
Membuat meuseukat sebenarnya sama
saja seperti membuat dodol, membutuhkan waktu yang lama serta ketelatenan dalam
membuat adonan. Rasanya yang dominan manis berasal dari sari gula, sari buah
nanas dan jeruk. Untuk membuatnya, gula dimasak dengan air serta perasan air
jeruk dan nanas. Kemudian tepung dan mentega dimasukkan ke dalam air gula
dengan perbandingan satu banding lima. Aduk dan masak dengan api kecil hingga
adonan matang.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar