~LOCAL FOOD
Cucuru bayao

”CUCURU BAYAO” Jika orang yang mengerti bahasa makassar mendengar nama kue yang satu ini pasti sudah mengetahui bahan dasar kue ini yakni dari bayao=telur. Cucuru bayao adalah kue khas Pangkep yang rasanya sangat manis dan dapat dengan mudah di dapatkan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan yang berlangsung di kabupaten Pangkep. Di setiap pernikahan kue ini tak pernah absen untuk hadir dalam menu yang di hidangkan dalam bosara apalagi saat ma’mata-mata (malam berpacing) pada pernikahan. Cucuru bayao ini terbuat dari telur, gula, dan kenari.
Kue Cucuru bayao ini menggunakan banyak sekali telur sehingga menyebabkan kue ini berwarna golden (seperti emas) yang melambangkan kemuliaan, kemegahan serta keangungan yang bermakna baik sehingga dalam event yang bertujuan untuk kehidupan yang baik pastinya kue ini akan hadir dalam event tersebut.
Kini cucuru bayao sudah sangat mudah di temukan apalagi di daerah pangkep sampai makasssar, karna kue ini hanya di hidangkan pada pesta pernikahan atau acara tertentu jadi bila ingin mencicipi cucuru bayao datang saja di kabupaten pangkajene dan kepulauan.Bentuk cucuru bayao itu, bulat agak pipih, dan berwarna kuning tua. cucuru bayao sangat lah manis jadi, bagi para penderita diabetes harus berhati – hati memakan si cucuru bayao ini. Kalo mau membuat cucuru bayao, sang pembuat harus mematuhi peraturan tertentu, antara lain ; pembuat harus bersih, memakai pakaian yang bagus, dan juga tidak boleh marah (membuat cucuru bayao membutuhkan kesabaran yang tinggi).
Pallu kalua
Kuah sup ini terlihat berwarna kehitaman dan tidak kental. Berhubung tampilan kuahnya mirip menu rawon asal Jawa Timur, tak ayal sebagian warga pendatang di Makassar menyebut pallu kaloa sebagai rawon ikan. Pallu kaloa menjadi salah satu masakan yang paling diburu wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Masyarakat dari kalangan biasa hingga pejabat kerap menjadikan makanan ini sajian utama ketika menjamu tamu. Warung pallu kaloa di Jalan Tentara Pelajar ini sudah hadir sejak era tahun 1970-an.
peracik pertama Pallu Kaloa bernama H. Wasid asal Kabupaten Pangkep. Dulu ia berjualan pallu kaloa menggunakan gerobak di Jalan Lombok. Menu ini rupanya berhasil menarik perhatian banyak penikmat makanan sehingga pada tahun 2005, H. Wasid memutuskan untuk mengembangkan usahanya dengan membuka warung makan di Pasar Sentral. Lantaran Pasar Sentral sempat mengalami dua kali kebakaran, H. Wasid lantas mengajak anaknya untuk membuka warung di Jalan Tentara Pelajar pada tahun 2008. Warung yang awalnya hanya berukuran 4X6 meter kini telah berkembang menjadi 8X6 meter. Tidak hanya itu, warung pallu kaloa milik H. Wasid kini juga sudah memiliki dua cabang salah satunya dikelola oleh sang cucu. Pallu kaloa yang diracik H. Wasid bersama tujuh anaknya memiliki ciri khas tersendiri. Kalau di rumah makan lain kuah sup dibumbuhi kelapa, di tempat ini sebaliknya, tidak menggunakan kelapa sama sekali. Kuah sup hanya mengandalkan cita rasa asam dari rempah kaloa yang dicampur asam Jawa dan gula merah.
Resep yang digunakan sudah turun-temurun diwariskan dari kakek makanya tidak akan sama dengan tempat lain. Apalagi ikan yang dipakai benar-benar dipilih dan tidak asal seperti kerapu, lamuru, katamba, kaneke, dan tuna yang hanya dipakai kepalanya. Sementara yang ingin mencicipi dagingnya, dipilihkan ikan tuna dan lamuru. Adapun untuk kuahnya menggunakan bumbu rempah yang terdiri atas lengkuas, sereh, bawang putih, bawang merah, kayu manis, pala, ketumbar, merica, dan kaloa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar